MENJADI GURU DENGAN SEPENUH HATI
Secara jujur kita harus mengakui bahwa sebagian besar guru, sebenarnya tidak siap untuk menjadi seorang pendidik. Memikul profesi sebagai seorang guru kebanyakan hanya suatu keterpaksaan, karena tidak ada lowongan kerja lain untuk dirinya ketika dulu ia memulai kariernya. Ternyata ia tidak memiliki “panggilan hati” untuk menjadi pendidik, atau kalau ia dosen sebagai pendidik sekaligus ilmuwan. Saya kuatir mereka hanya akan menampilkan “ilmu yang murung dan muram” di hadapan murid-murid dan mahasiswa mereka.
Lantas bagaimana kita mengharapkan lahir murid-murid dan alumni yang berkualitas dari sosok-sosok guru bermasalah” seperti itu? Bagaimana para sarjana baru berminat untuk menghasilkan karya mereka dalam bentuk buku, misalnya, jika di hadapan “hidung” mereka, para guru besarnya sendiri belum punya sepotong buku pun yang merupakan karyanya. Bagaimana perguruan-perguruan tinggi kita sekarang mampu meningkatkan “kultur menulis” di kalangan mahasiswanya jika para dosennya saja tak berminat (atau mungkin juga tak mampu) untuk menulis? Bukankah pepatah mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Proses rekrumen untuk menerima guru dan dosen di masa yang akan datang sudah perlu direvisi secara ketat.
Saya kira tidak terlalu berlebihan jika saya menuntut adanya “moralitas khas bagi dunia pendidikan”.
Ditulis oleh retnofis
Ditulis oleh retnofis